Seperti Apa Dampak Kesehatan Dari Pernikahan di Usia Remaja?

Penikahan remaja yang berusia 15 tahun dari Baturaja, Sumatera Selatan, yang bernama Amanda Safitri serta Muhammad Fitrah Rizky, akhir-akhir ini menarik perhatian banyak orang dimedia sosial. Bagaimana tak, pasangan pengantin ini tercatat tetap jadi murid Sekolah Menengah Pertama. Banyak sekali orang yang memuji keputusan kedua nya untuk menikah sebab hendak menghindari zina, tetapi ada juga yang menganggap pernikahan ini menjadi sesuatu yang terburu-buru untuk di lakukan. Sebenarnya, apakah ada akibat kesehatan yang di dapatkan dari pernikahan diusia remaja seperti yang mereka lakukan?

Ahli kesehatan di sektor psikologi anak serta remaja bernama Ratih Zulhaqqi mengatakan kalau pernikahan di usia remaja dapat membagikan akibat psikologis berupa adanya tahapan dari hidup yang terasa terlewat begitu saja oleh pelakunya. Yang jadi masalah yaitu, salah 1 ataupun kedua pasangan yang menikah ini dapat merasa kehilangan tahapan hidup itu serta mengharap tahapan ini kembali di suatu waktu dimasa depan. Kondisi ini dapat saja memicu pertengkaran ataupun bahkan perceraian di lalu hari.

Berdasarkan Ratih, ketika fase SMA ataupun setelah lulus SMA, remaja yang sedang dalam kondisi mencari suatu eksistensi diri serta jati diri. Di saat-saat inilah mereka sering melaksanakan banyak hal baik itu bersama teman-temannya ataupun orang lain yang Dia percayai. Kalau mereka telah menikah, mereka tentu tak akan dapat melaksanakan beragam hal itu sebab telah mempunyai tanggung jawab di keluarganya. Hal inilah yang dapat membuat mereka kehilangan fase itu.

Dalam hal kesehatan fisik sendiri, ahli kesehatan di sektor kehamilan bernama dr. Arietta Pusponegoro, SpOG(K) mengatakan kalau sebelum usia perempuan mencapai 20 tahun, tubuhnya sebenarnya masih belum benar-benar siap untuk segera hamil. Beliau sendiri menyarankan perempuan untuk hamil serta melahirkan di usia ideal antara 20 sampai 35 tahun. Kalau seorang perempuan hamil sebelum 20 tahun, Dia pun berisiko lebih besar mengalami ketuban pecah dini ataupun kelahiran bayi yang prematur. Tidak cuma itu, bunda pun juga akan lebih berisiko tertimpa anemia, pendarahan, serta hipertensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *